Islam Ajarkan Menjaga Laut sebagai Amanah

oleh
Ilustrasi laut dan ekosistem pesisir sebagai gambaran pentingnya menjaga lingkungan dan kelestarian laut.(Sumber: kemenag.go.id)
3.2K pembaca

Krisis ekologi laut menjadi persoalan yang semakin penting untuk diperhatikan. Dalam perspektif Islam, menjaga laut tidak hanya berkaitan dengan kepentingan lingkungan, tetapi juga merupakan bagian dari amanah manusia sebagai khalifah di bumi.

Laut bukan sekadar hamparan air. Di dalamnya terdapat berbagai sumber kehidupan, mulai dari ikan, terumbu karang, mangrove, hingga beragam biota laut. Laut juga menjadi sumber pangan, jalur transportasi, serta tempat bergantungnya kehidupan masyarakat pesisir.

Al-Qur’an mengingatkan manusia mengenai manfaat laut dalam Surah An-Nahl ayat 14:

“Dialah yang menundukkan lautan (untukmu) agar kamu dapat memakan daging yang segar (ikan) darinya dan (dari lautan itu) kamu mengeluarkan perhiasan yang kamu pakai. Kamu juga melihat perahu berlayar padanya, dan agar kamu mencari sebagian karunia-Nya, dan agar kamu bersyukur.”

Ayat tersebut menunjukkan berbagai manfaat laut bagi kehidupan manusia. Namun, pemanfaatan tersebut tidak berarti manusia bebas mengeksploitasi laut tanpa batas.

Laut yang menyediakan sumber pangan tidak boleh dieksploitasi tanpa mempertimbangkan keberlanjutan. Laut yang menjadi ruang kehidupan juga tidak semestinya dijadikan tempat pembuangan sampah dan limbah. Kekayaan laut perlu dikelola dengan mempertimbangkan keberlangsungan ekosistem dan kehidupan generasi mendatang.

Manusia sebagai Khalifah di Bumi

Islam menempatkan manusia sebagai khalifah di bumi. Konsep tersebut dijelaskan dalam Surah Al-Baqarah ayat 30 ketika Allah Swt. menyampaikan kepada para malaikat tentang penciptaan khalifah di bumi.

Khalifah tidak berarti manusia menjadi pemilik mutlak bumi. Manusia mendapat amanah untuk mengelola, menjaga, dan memakmurkan bumi dengan penuh tanggung jawab.

Karena itu, kerusakan laut dapat dilihat bukan hanya sebagai persoalan ekologis, tetapi juga sebagai persoalan moral dan spiritual.

Pencemaran laut, kerusakan terumbu karang, penebangan mangrove secara tidak terkendali, sampah plastik yang terbawa dari sungai, hingga rusaknya habitat biota laut merupakan bagian dari persoalan yang perlu mendapat perhatian.

Al-Qur’an secara tegas mengingatkan mengenai kerusakan di darat dan laut melalui Surah Ar-Rum ayat 41:

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia. Melalui hal itu Allah membuat mereka merasakan sebagian dari akibat perbuatan mereka agar mereka kembali ke jalan yang benar.”

Ayat tersebut menjadi pengingat bahwa tindakan manusia dapat menimbulkan dampak terhadap lingkungan. Kerusakan yang terjadi di darat maupun laut pada akhirnya juga dapat kembali memengaruhi kehidupan manusia.

Menjaga Laut Berarti Menjaga Kehidupan

Ekosistem laut memiliki hubungan yang saling berkaitan. Terumbu karang memiliki fungsi ekologis, mangrove berperan dalam menjaga kawasan pesisir, sedangkan ikan dan berbagai biota laut menjadi bagian dari rantai kehidupan.

Ketika salah satu bagian ekosistem mengalami kerusakan, bagian lainnya dapat ikut terdampak. Karena itu, menjaga laut pada dasarnya juga berarti menjaga keberlangsungan kehidupan.

Dalam perspektif Islam, upaya menjaga kemaslahatan dan mencegah kerusakan dapat menjadi bagian dari amal. Menjaga kebersihan lingkungan, mengurangi sampah plastik, membersihkan sungai, merawat ekosistem pesisir, dan mencegah pencemaran merupakan tindakan yang memiliki manfaat bagi masyarakat dan makhluk hidup lainnya.

Salah satu kaidah fikih yang dikenal luas adalah:

الضَّرَرُ يُزَالُ

Artinya, “Kemudaratan harus dihilangkan.”

Kaidah tersebut mengandung prinsip bahwa tindakan yang menimbulkan kerusakan atau kemudaratan perlu dicegah dan dihilangkan sesuai kemampuan.

Jika pencemaran laut merusak ekosistem, mengganggu kesehatan, mengancam mata pencaharian nelayan, atau berdampak terhadap generasi mendatang, upaya untuk mencegah dan mengurangi kerusakan menjadi bagian penting dari tanggung jawab manusia.

Menjaga Lingkungan Dimulai dari Hal Kecil

Tidak semua orang memiliki kewenangan untuk membuat kebijakan lingkungan. Tidak semua masyarakat tinggal di kawasan pesisir atau bekerja sebagai nelayan. Namun, setiap orang tetap memiliki peran dalam menjaga lingkungan.

Sampah yang dibuang sembarangan dapat masuk ke saluran air, kemudian mengalir ke sungai dan bermuara di laut. Karena itu, kebiasaan sederhana seperti mengurangi sampah plastik, membuang sampah pada tempatnya, serta tidak membuang limbah ke sungai dapat menjadi bagian dari upaya menjaga ekosistem laut.

Kesadaran tersebut penting karena manusia bukan generasi terakhir yang akan menikmati bumi. Anak-anak dan generasi mendatang juga memiliki hak untuk menikmati lingkungan yang sehat dan ekosistem laut yang tetap terjaga.

Menjaga lingkungan, dengan demikian, dapat dipandang sebagai bentuk tanggung jawab manusia dalam menjalankan amanah sebagai khalifah di bumi.

Laut bukan hanya sumber daya yang dapat dimanfaatkan, tetapi juga bagian dari ciptaan Allah yang perlu dijaga keseimbangannya.

Semoga kesadaran untuk menjaga laut dan lingkungan terus tumbuh sehingga setiap upaya melindungi bumi dapat memberikan manfaat bagi manusia, hewan, tumbuhan, serta generasi yang akan datang.

Sumber: kemenag.go.id

Catatan: Informasi ini dikutip dari situs resmi Kementerian Agama Republik Indonesia, Jumat (25/9/2026).

No More Posts Available.

No more pages to load.

Siap