Ekonomi Pertahanan Bisa Jadi Mesin Pertumbuhan Nasional, Bukan Sekadar Beban Anggaran

oleh
Marsda TNI (Purn) Dr. Budhi Achmadi, M.Sc. memaparkan pentingnya transformasi ekonomi pertahanan sebagai penggerak pertumbuhan ekonomi, inovasi teknologi, dan industrialisasi nasional menuju Indonesia Emas 2045.
45.4K pembaca

Anggaran pertahanan selama ini kerap dipandang sebagai beban yang harus ditanggung negara untuk menjaga kedaulatan dan keamanan. Namun, di tengah persaingan geopolitik, perkembangan teknologi, dan ketidakpastian ekonomi global, sektor pertahanan dinilai dapat menjadi penggerak pertumbuhan ekonomi, inovasi teknologi, hingga industrialisasi nasional.

Pandangan tersebut disampaikan Marsda TNI (Purn) Dr. Budhi Achmadi, M.Sc. dalam tulisannya berjudul Membangun Ekonomi Pertahanan Indonesia: Dari Beban Anggaran Menjadi Mesin Pertumbuhan Nasional.

Menurut Budhi, paradigma modern ekonomi pertahanan menunjukkan bahwa belanja pertahanan tidak hanya menghasilkan kekuatan militer, tetapi juga dapat menciptakan nilai tambah ekonomi melalui pengembangan industri, riset teknologi, penciptaan lapangan kerja, dan peningkatan daya saing nasional.

Ia mengutip pemikiran pakar ekonomi pertahanan dari King’s College London, Profesor Ron Matthews, yang menilai keberhasilan pembangunan pertahanan tidak hanya diukur dari besarnya anggaran atau jumlah alat utama sistem senjata (alutsista), melainkan kemampuan mengubah investasi pertahanan menjadi kapasitas industri, penguasaan teknologi, dan manfaat ekonomi berkelanjutan.

“Pertahanan yang dikelola secara tepat akan menghasilkan dua keuntungan sekaligus, yakni dividen keamanan dan dividen ekonomi,” tulis Budhi.

Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia yang berada di jalur strategis Indo-Pasifik, Indonesia membutuhkan kekuatan pertahanan modern dan berteknologi tinggi. Namun, pembangunan sektor pertahanan harus diintegrasikan dengan agenda industrialisasi nasional agar memberikan dampak ekonomi yang lebih luas.

Budhi mencontohkan keberhasilan Korea Selatan dan Turki dalam membangun industri pertahanan yang tidak hanya memperkuat kemampuan militer, tetapi juga menjadi motor pertumbuhan ekonomi melalui ekspor produk pertahanan, penciptaan lapangan kerja, dan penguasaan teknologi.

Menurutnya, Indonesia sebenarnya memiliki fondasi yang cukup kuat melalui berbagai industri strategis nasional yang telah memproduksi pesawat terbang, kapal perang, kendaraan tempur, radar, hingga sistem pertahanan lainnya. Tantangan ke depan adalah membangun ekosistem ekonomi pertahanan yang terintegrasi antara industri, perguruan tinggi, lembaga riset, dunia usaha, dan pengguna akhir.

Budhi juga menekankan pentingnya pemanfaatan teknologi pertahanan untuk sektor sipil melalui konsep technology spillover effect. Banyak inovasi yang kini digunakan masyarakat, seperti internet, GPS, satelit, hingga kecerdasan buatan, awalnya berkembang dari kebutuhan militer.

Karena itu, investasi pertahanan Indonesia perlu diarahkan untuk menghasilkan inovasi yang dapat dimanfaatkan di sektor kesehatan, transportasi, energi, pertanian, pendidikan, hingga ekonomi digital.

Selain itu, sektor pertahanan dinilai memiliki peluang besar sebagai sumber devisa melalui ekspor produk-produk strategis seperti kapal patroli, pesawat angkut, radar, drone, kendaraan tempur, dan munisi ke pasar internasional.

Budhi mengusulkan konsep Defence Economy 5.0, yakni integrasi antara sektor pertahanan, industri, teknologi digital, kecerdasan buatan, ekonomi hijau, dan pembangunan nasional.

Konsep tersebut memiliki lima sasaran utama, yaitu membangun kekuatan militer yang kredibel, memperkuat industri pertahanan nasional, mempercepat penguasaan teknologi strategis, meningkatkan ekspor pertahanan, serta menciptakan efek pengganda ekonomi bagi berbagai sektor lainnya.

Menurutnya, keberhasilan pembangunan pertahanan tidak hanya diukur dari jumlah kapal perang, pesawat tempur, atau rudal yang dimiliki, tetapi dari kemampuan mengubah investasi pertahanan menjadi kekuatan ekonomi, teknologi, dan industri yang berkelanjutan.

Dalam mewujudkan Indonesia Emas 2045, Budhi menilai sektor pertahanan harus dipandang sebagai investasi strategis yang mampu menghasilkan tiga manfaat sekaligus, yakni dividen keamanan, dividen ekonomi, dan dividen teknologi.

Dengan pendekatan tersebut, pertahanan tidak hanya berfungsi menjaga kedaulatan negara, tetapi juga menjadi salah satu penggerak utama pertumbuhan ekonomi nasional, industrialisasi, dan kemandirian bangsa di masa depan.

No More Posts Available.

No more pages to load.

Siap