Limbah Sabut Kelapa Diolah Menjadi Cocopeat Bernilai Ekonomi

oleh
Lurah Pulo Gebang, Imran (tengah), bersama pelaku usaha pengolahan limbah sabut kelapa dan warga saat meninjau proses produksi cocopeat di Kelurahan Pulo Gebang, Jakarta Timur. Pemanfaatan limbah kelapa tersebut menjadi upaya mendukung pengurangan sampah sekaligus menciptakan nilai ekonomi bagi masyarakat.
14.9K pembaca

Limbah sabut kelapa muda yang selama ini kerap menumpuk di sekitar lapak pedagang kini mulai dimanfaatkan menjadi cocopeat, media tanam ramah lingkungan yang memiliki nilai ekonomi dan banyak digunakan dalam sektor pertanian, perkebunan, serta hortikultura.

Inovasi pengolahan limbah tersebut dikembangkan oleh pelaku usaha Oktaryo Bekramada. Ia mengumpulkan sabut kelapa bekas dari para pedagang untuk kemudian dicacah dan diolah menjadi cocopeat yang memiliki daya serap air tinggi serta mampu mendukung pertumbuhan akar tanaman.

Menurut Oktaryo, pemanfaatan sabut kelapa menjadi cocopeat tidak hanya membantu mengurangi volume sampah organik, tetapi juga membuka peluang usaha baru bagi masyarakat.

“Sabut kelapa yang selama ini dianggap sampah ternyata memiliki potensi besar. Dengan diolah menjadi cocopeat, limbah dapat berkurang sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat,” ujar Oktaryo, Selasa (23/6/2026).

Ia menjelaskan, permintaan cocopeat terus meningkat seiring berkembangnya tren pertanian modern, budidaya tanaman hias, dan konsep pertanian berkelanjutan. Karena itu, pengolahan limbah sabut kelapa dinilai menjadi solusi yang memberikan manfaat ekonomi sekaligus mendukung pelestarian lingkungan.

Upaya serupa juga dilakukan warga RW 03 Kelurahan Pulo Gebang, Jakarta Timur. Berangkat dari kepedulian terhadap lingkungan, warga setempat memanfaatkan limbah batok dan serabut kelapa menjadi cocopeat yang memiliki nilai guna dan nilai jual.

Saat meninjau lokasi pengolahan, Lurah Pulo Gebang, Imran, mengapresiasi inisiatif warga yang berhasil mengubah limbah menjadi produk bernilai tambah.

“Batok dan sabut kelapa merupakan limbah organik yang membutuhkan waktu cukup lama untuk terurai. Jika tidak dikelola dengan baik, limbah tersebut dapat menambah volume sampah di lingkungan,” kata Imran.

Menurutnya, pengolahan limbah berbasis masyarakat perlu terus didorong karena tidak hanya membantu mengurangi sampah, tetapi juga mampu menciptakan peluang ekonomi produktif bagi warga.

Program pemanfaatan sabut kelapa menjadi cocopeat diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat dalam mengelola limbah secara kreatif dan produktif. Selain itu, langkah tersebut juga mendukung penerapan ekonomi sirkular dengan mengubah limbah menjadi produk yang memiliki nilai jual.

Melalui inovasi ini, masyarakat diharapkan semakin aktif dalam mengembangkan pengelolaan limbah berbasis pemberdayaan warga guna menciptakan lingkungan yang bersih, sehat, dan berkelanjutan.

No More Posts Available.

No more pages to load.

Siap