Pemerintah memperkuat strategi untuk mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia di tengah tantangan global yang semakin kompleks. Investasi berkualitas dan pembiayaan jangka panjang dinilai menjadi faktor penting untuk meningkatkan produktivitas sekaligus menjaga stabilitas fiskal.
Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Suahasil Nazara menyampaikan hal tersebut dalam J.P. Morgan Investment Forum bertajuk Financing Indonesia’s Growth Agenda Amid Fiscal Constraints di Jakarta, Rabu (2/9/2026).
Fundamental Ekonomi Tetap Kuat
Suahasil mengatakan Indonesia memiliki fundamental ekonomi dan kondisi fiskal yang relatif kuat meski menghadapi tekanan dari lingkungan global.
Ia menyebut pertumbuhan ekonomi pada semester I 2026 mencapai 5,45 persen secara tahunan. Sementara itu, tingkat inflasi terbaru berada di angka 3,2 persen.
Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan perekonomian Indonesia masih memiliki daya tahan dalam menghadapi perubahan ekonomi global dan menjaga keseimbangan eksternal.
Pemerintah, lanjut Suahasil, tidak hanya ingin mempertahankan pertumbuhan, tetapi juga mendorong ekonomi menuju tingkat pertumbuhan yang lebih tinggi.
Investasi Harus Tingkatkan Produktivitas
Untuk mencapai target tersebut, pemerintah menilai investasi perlu diarahkan pada kegiatan yang mampu memberikan dampak lebih besar terhadap produktivitas.
Karena itu, pemerintah terus memperbaiki iklim investasi melalui deregulasi, penyelesaian berbagai hambatan usaha, kepastian kebijakan, serta kebijakan yang mendukung peningkatan produktivitas.
Suahasil menekankan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan membutuhkan penguatan modal, peningkatan kapasitas produksi, penciptaan nilai tambah, dan produktivitas di berbagai sektor.
APBN, Danantara, dan Swasta Diperkuat
Pembiayaan pertumbuhan ekonomi juga akan didorong melalui sinergi antara APBN, Danantara, dan sektor swasta.
Menurut Suahasil, APBN tetap memiliki peran penting dalam menciptakan ruang bagi pertumbuhan ekonomi sekaligus memberikan perlindungan kepada masyarakat.
Di sisi lain, Danantara bersama mitra dan sektor swasta diharapkan mampu memperbesar investasi serta memobilisasi pembiayaan jangka panjang.
Sinergi tersebut diharapkan dapat memperkuat skala usaha dan mendorong inovasi dalam investasi sektor swasta.
Pertumbuhan dan Stabilitas Fiskal Berjalan Bersama
Suahasil menegaskan APBN harus menjalankan beberapa fungsi sekaligus. Selain menjadi shock absorber ketika terjadi tekanan ekonomi, APBN harus mendukung pembangunan produktif dan menjaga kesehatan fiskal dalam jangka panjang.
Karena itu, pemerintah tidak melihat pertumbuhan ekonomi dan stabilitas fiskal sebagai dua pilihan yang harus dipertentangkan.
Keduanya justru perlu berjalan beriringan agar Indonesia mampu menghadapi ketidakpastian global sekaligus membuka ruang bagi pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi.
Pemerintah berharap penguatan investasi, pembiayaan jangka panjang, dan kebijakan fiskal yang terukur dapat menjadi fondasi bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia yang lebih produktif dan berkelanjutan.
Catatan: Informasi ini dikutip dari situs resmi Kementerian Keuangan Republik Indonesia, Kamis (3/9/2026).











