Yanto PhD: Hoaks Pemilu 2029 Berpotensi Makin Realistis Berkat AI

oleh
Akademisi Unika Atma Jaya dan pegiat literasi digital Yanto menyampaikan materi tentang potensi hoaks berbasis kecerdasan buatan dan pentingnya literasi digital dalam kegiatan KPU Goes to Campus di Kampus 3 Unika Atma Jaya, BSD, Tangerang
3.4K pembaca

Perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) berpotensi membuat hoaks politik menjelang Pemilu 2029 semakin realistis, cepat menyebar, dan terarah kepada kelompok sasaran tertentu. Masyarakat pun diingatkan untuk meningkatkan literasi digital dan memeriksa kebenaran informasi sebelum membagikannya.

Peringatan tersebut disampaikan Ir. Yanto, S.T., M.Sc., Ph.D., IPU, ASEAN Eng., akademisi Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya (Unika Atma Jaya) sekaligus pegiat literasi digital, dalam kegiatan KPU Goes to Campus di Kampus 3 Unika Atma Jaya, BSD, Tangerang.

Berdasarkan siaran pers yang diterima redaksi pada Minggu (18/10/2026), kegiatan tersebut diselenggarakan Komisi Pemilihan Umum Republik Indonesia (KPU RI) bersama Unika Atma Jaya dengan tema “Pemilih Berintegritas, Demokrasi Berkualitas: Membangun Generasi Muda yang Cerdas, Kritis, dan Bertanggung Jawab dalam Menggunakan Hak Pilih di Era Digital demi Terwujudnya Demokrasi Indonesia yang Berkualitas”.

Dalam pemaparannya, Yanto menjelaskan bahwa masa kampanye berpotensi diwarnai arus informasi politik yang semakin padat. Media sosial dan aplikasi percakapan diperkirakan tetap menjadi saluran utama masyarakat untuk memperoleh sekaligus menyebarkan informasi.

Menurutnya, tantangan terbesar bukan hanya banyaknya informasi, melainkan kemampuan masyarakat membedakan fakta, opini, manipulasi, dan konten yang sengaja dibuat untuk menyesatkan.

“ Tantangan utama pada era digital bukan sekadar banyaknya informasi, melainkan kemampuan masyarakat untuk membedakan fakta, opini, manipulasi, dan informasi yang sengaja dibuat untuk menyesatkan,” ujar Yanto.

Integritas Pemilih Menentukan Kualitas Demokrasi

Yanto menegaskan bahwa pemilih memiliki peran penting dalam menentukan arah kepemimpinan dan masa depan Indonesia. Karena itu, penggunaan hak pilih perlu didasarkan pada pertimbangan yang matang, informasi yang dapat dipercaya, serta tanggung jawab terhadap kehidupan demokrasi.

Integritas pemilih juga tercermin dari sikap menghormati perbedaan pilihan politik dan kesediaan memeriksa informasi yang diterima, termasuk informasi yang sesuai dengan pandangan pribadi.

Ia turut membahas kecenderungan manusia memberikan perhatian lebih besar terhadap informasi negatif. Dalam konteks politik, konten yang memancing kemarahan, ketakutan, atau kecurigaan dapat menarik perhatian dan mendorong orang membagikannya sebelum melakukan verifikasi.

Yanto juga menyinggung penelitian mengenai perbedaan perhatian dan ingatan terhadap informasi negatif. Namun, perbedaan tersebut tidak seharusnya digunakan untuk menggeneralisasi perilaku seluruh kelompok berdasarkan gender.

Empat Kelompok Perlu Dijangkau Literasi Digital

Dalam paparannya, Yanto menyoroti pentingnya memperluas edukasi literasi digital kepada berbagai kelompok masyarakat, termasuk warga lanjut usia, generasi muda, orang dengan keterbatasan akses atau keterampilan mengevaluasi informasi, serta individu yang memiliki keterikatan politik sangat kuat.

Ia menekankan bahwa pengelompokan tersebut bukan berarti setiap orang dalam kelompok itu rentan terhadap hoaks. Kebutuhan literasi digital setiap individu berbeda, bergantung pada pengalaman, akses informasi, keterampilan memeriksa sumber, dan kebiasaan bermedia.

Warga lanjut usia dapat membutuhkan pendampingan dalam mengenali konten yang dimanipulasi. Sementara itu, generasi muda perlu dibekali kemampuan memeriksa informasi di tengah tingginya paparan konten digital.

Edukasi juga perlu membantu masyarakat mengenali informasi yang tidak didukung bukti dan memahami bagaimana keyakinan politik dapat memengaruhi penilaian terhadap suatu berita.

Menurut Yanto, literasi digital perlu dikembangkan secara berkelanjutan dengan pendekatan yang mudah dipahami dan menjangkau beragam lapisan masyarakat.

AI Berpotensi Mengubah Pola Hoaks Pemilu

Yanto memaparkan perubahan bentuk informasi menyesatkan dari pemilu ke pemilu. Foto dan teks menjadi bagian dari penyebaran hoaks pada pemilu sebelumnya, sedangkan video dan konten audiovisual semakin penting dalam membentuk persepsi masyarakat pada era digital.

Menjelang Pemilu 2029, ia memproyeksikan tiga tantangan yang perlu diantisipasi.

Pertama, konten sintetis yang semakin realistis. Teknologi AI dapat digunakan untuk membuat gambar, video, suara, dan teks yang menyerupai konten autentik. Salah satu bentuknya adalah deepfake, yakni konten manipulatif yang dapat membuat seseorang seolah-olah mengucapkan atau melakukan sesuatu yang sebenarnya tidak terjadi.

Kedua, penyebaran konten secara otomatis. Bot dan sistem otomatis dapat digunakan untuk mendistribusikan pesan dalam skala besar. Jika disalahgunakan, teknologi tersebut berpotensi membuat klaim palsu berulang kali muncul dan menimbulkan kesan seolah-olah suatu narasi mendapat dukungan luas.

Ketiga, manipulasi informasi yang lebih terarah. Pesan dapat disesuaikan dengan minat, perilaku, atau karakteristik audiens tertentu. Strategi semacam ini berpotensi membuat informasi menyesatkan terasa lebih meyakinkan bagi penerimanya.

Yanto menegaskan bahwa ketiga pola tersebut merupakan proyeksi tantangan, bukan kepastian bahwa seluruh hoaks pada Pemilu 2029 akan menggunakan cara-cara tersebut. Perkembangan teknologi perlu diimbangi dengan peningkatan kemampuan masyarakat dalam memeriksa sumber dan keaslian konten.

Waspadai Informasi Viral di Media Sosial

Media sosial dan aplikasi percakapan juga menjadi perhatian karena informasi dapat menyebar melalui unggahan viral maupun pesan berantai di grup keluarga, komunitas, dan pertemanan.

Informasi dari orang yang dikenal belum tentu benar. Karena itu, masyarakat perlu memeriksa sumber awal, tanggal publikasi, konteks, serta kesesuaian informasi dengan pemberitaan dari sumber tepercaya.

Konten visual yang terlihat meyakinkan juga tidak otomatis membuktikan bahwa suatu peristiwa benar-benar terjadi. Video, rekaman suara, foto, dan tangkapan layar perlu diperiksa sebelum dijadikan dasar untuk mengambil kesimpulan atau dibagikan kepada orang lain.

Menjelang pemilu, kebiasaan memeriksa informasi menjadi bagian penting dalam menjaga ruang publik tetap sehat. Masyarakat dapat membandingkan informasi dengan sumber resmi, membaca berita secara utuh, dan tidak langsung menyebarkan konten yang memancing emosi.

Yanto Memiliki Pengalaman di Bidang Pendidikan

Yanto merupakan akademisi Unika Atma Jaya dengan pengalaman sekitar 24 tahun di bidang akademik dan pengelolaan pendidikan tinggi. Ia juga aktif menjadi narasumber dalam seminar, diskusi publik, dan pelatihan serta menulis buku.

Dalam perjalanan kariernya, ia pernah menjabat sebagai Kepala Program Studi Teknik Industri, Wakil Dekan Fakultas Teknik, dan Wakil Dekan I Fakultas Biosains, Teknologi, dan Inovasi.

Saat ini, Yanto menjabat sebagai Direktur Eksekutif YZUxAJCUI Collaboration Center, pusat kolaborasi internasional yang disebut didukung hibah dari Yuan Ze University, Taiwan. Ia juga menjabat sebagai Direktur SMA Futuhiyyah Semarang dengan tanggung jawab pada perencanaan dan kebijakan strategis organisasi.

Melalui penguatan literasi digital, masyarakat diharapkan dapat menjadi pemilih yang lebih kritis dan bertanggung jawab. Kemampuan memeriksa informasi bukan hanya penting untuk menghadapi hoaks, tetapi juga untuk menjaga kualitas diskusi publik dan demokrasi Indonesia.

No More Posts Available.

No more pages to load.

Siap