Gunung Tampomas bukan sekadar bentang alam yang menghiasi wilayah Kabupaten Sumedang, Jawa Barat. Gunung dengan ketinggian sekitar 1.684 meter di atas permukaan laut (mdpl) ini memiliki peran penting sebagai kawasan penyangga ekologi sekaligus menyimpan nilai sejarah dan budaya masyarakat Sunda.
Puncak Tampomas yang dikenal dengan nama Sanghyang Taraje menjadi salah satu penanda geografis Sumedang. Keberadaannya juga lekat dengan kehidupan masyarakat, mulai dari sumber air, kawasan hutan, hingga tradisi yang diwariskan secara turun-temurun.
Penyangga Sumber Air dan Kehidupan
Gunung Tampomas merupakan gunung api yang aktivitas vulkaniknya telah lama tidak tercatat. Kawasan hutan di lerengnya berperan penting dalam menjaga tata air dan menjadi habitat berbagai jenis tumbuhan serta satwa.
Sejumlah aliran air dari kawasan Tampomas dimanfaatkan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, termasuk mengairi lahan pertanian dan memenuhi kebutuhan air bersih. Karena itu, kelestarian hutan dan mata air di kawasan ini berpengaruh langsung terhadap kehidupan warga di wilayah sekitarnya.
Bagi para pendaki, Tampomas juga menjadi salah satu tujuan pendakian di Sumedang. Sejumlah jalur pendakian dapat diakses dari beberapa wilayah, di antaranya Narimbang, Buahdua, dan Cimalaka. Kondisi jalur serta waktu tempuh dapat berbeda, bergantung pada rute dan keadaan di lapangan.
Warisan Sejarah dan Tradisi Sunda
Selain memiliki fungsi ekologis, Gunung Tampomas menyimpan nilai sejarah dan spiritual bagi masyarakat Sumedang. Dalam cerita turun-temurun masyarakat setempat, gunung ini dikaitkan dengan tempat bertapa para leluhur.
Salah satu kawasan yang dikenal masyarakat adalah Situs Sanghyang Taraje. Lokasi tersebut dipercaya memiliki hubungan dengan tradisi spiritual dan sejarah Kerajaan Sumedang Larang.
Nilai penghormatan terhadap alam dan warisan leluhur tercermin dalam ungkapan yang hidup di kalangan masyarakat adat:
“Tampomas Titipan Karuhun, Teu Dijual. Tampomas Titipan Karuhun, Pamali Digali.”
Ungkapan tersebut mengandung pesan bahwa Gunung Tampomas merupakan warisan leluhur yang harus dijaga, bukan semata-mata dipandang sebagai sumber daya yang dapat dieksploitasi.
Tradisi ziarah dan kegiatan adat yang dilakukan sebagian masyarakat juga menjadi bagian dari upaya menjaga hubungan antara manusia, alam, dan nilai-nilai leluhur. Dalam budaya Sunda, upaya merawat warisan tersebut dikenal dengan istilah ngamumule.
Habitat Keanekaragaman Hayati
Hutan Gunung Tampomas menjadi habitat bagi beragam flora dan fauna. Sejumlah satwa yang disebut hidup di kawasan ini antara lain surili Jawa, lutung, dan berbagai jenis burung. Keberadaan satwa serta tumbuhan hutan menjadikan kawasan tersebut penting bagi pelestarian keanekaragaman hayati di Jawa Barat.
Masyarakat di sekitar gunung juga memanfaatkan hasil hutan bukan kayu, seperti aren, madu, dan tanaman yang digunakan sebagai bahan obat tradisional. Pemanfaatan sumber daya alam secara bijak perlu diimbangi dengan perlindungan kawasan hutan agar fungsi ekologisnya tetap terjaga.
Prinsip menjaga hutan dari penebangan liar, perburuan, dan kerusakan lingkungan menjadi bagian penting dalam upaya pelestarian Tampomas.
Penolakan Warga terhadap Wacana Panas Bumi
Perhatian masyarakat terhadap kelestarian Gunung Tampomas kembali menguat seiring munculnya wacana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) di kawasan tersebut.
Dalam Rapat Dengar Pendapat di DPRD Kabupaten Sumedang pada 21 Oktober 2026, warga dari sejumlah desa menyampaikan penolakan. Mereka mengkhawatirkan potensi dampak pembangunan terhadap sumber air, kawasan hutan, dan keseimbangan ekosistem.
Aspirasi tersebut menunjukkan bahwa masyarakat menganggap kelestarian Tampomas sebagai kepentingan bersama. Setiap rencana pemanfaatan kawasan perlu dikaji secara terbuka, dengan mempertimbangkan aspek lingkungan, sosial, budaya, serta keberlanjutan sumber air.
Menjaga Tampomas untuk Generasi Mendatang
Gunung Tampomas memiliki nilai yang jauh melampaui keindahan alamnya. Kawasan ini menopang kehidupan masyarakat melalui fungsi ekologis sekaligus menjadi bagian dari identitas budaya Sunda di Sumedang.
Menjaga Tampomas dapat dimulai dari tindakan sederhana, seperti tidak membuang sampah saat mendaki, tidak merusak vegetasi, tidak mengganggu satwa liar, serta menghormati situs yang dianggap sakral oleh masyarakat setempat.
Pelestarian juga membutuhkan keterlibatan warga, pemerintah, komunitas lingkungan, dan seluruh pihak yang berkepentingan terhadap kawasan tersebut.
Gunung Tampomas merupakan warisan alam dan budaya yang perlu dijaga bersama. Melestarikannya berarti turut menjaga sumber kehidupan masyarakat sekaligus merawat identitas Sumedang sebagai salah satu pusat kebudayaan Sunda.
Penulis: Andy Java
Pemerhati Lingkungan dan Budaya







