Rupiah Masih di Atas Rp18.000 per Dolar AS, Ini Data Terbaru Bank Indonesia

oleh
Ilustrasi uang rupiah dan dolar Amerika Serikat dengan tampilan grafik pergerakan nilai tukar. Bank Indonesia mencatat kurs JISDOR rupiah sebesar Rp18.094 per dolar AS pada 5 November 2026. (Ilustrasi AI).
3.2K pembaca

Nilai tukar rupiah masih berada di atas level Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS) pada awal November 2026. Data Bank Indonesia (BI) menunjukkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) pada Kamis, 5 November 2026, berada di level Rp18.094 per dolar AS.

Posisi tersebut menunjukkan rupiah masih menghadapi tekanan di pasar valuta asing. Pergerakan nilai tukar menjadi perhatian karena dapat memengaruhi biaya impor, kebutuhan valuta asing, serta harga sejumlah barang yang bergantung pada bahan baku dari luar negeri.

Berdasarkan data kurs transaksi BI yang diperbarui pada Jumat, 6 November 2026, dolar AS tercatat memiliki kurs jual Rp18.184,47 dan kurs beli Rp18.003,53.

Perlu diketahui, kurs JISDOR merupakan referensi harga spot dolar AS terhadap rupiah di pasar antarbank. Sementara itu, kurs transaksi BI merupakan acuan transaksi Bank Indonesia dengan pihak ketiga. Angka keduanya tidak dapat disamakan begitu saja dengan kurs jual-beli yang ditawarkan setiap bank kepada nasabah.

Rupiah Bergerak di Atas Rp18.000 dalam Sejumlah Hari Perdagangan

Data JISDOR BI memperlihatkan rupiah berada di atas Rp18.000 per dolar AS sepanjang sejumlah hari perdagangan terakhir.

Pada 2 November 2026, JISDOR tercatat Rp18.161 per dolar AS. Sehari kemudian berada di Rp18.148, kemudian Rp18.140 pada 4 November 2026.

Pada 5 November 2026, kurs JISDOR tercatat Rp18.094 per dolar AS.

Data tersebut menunjukkan adanya penguatan rupiah secara bertahap dibandingkan posisi 2 November. Namun, nilainya masih berada di atas ambang Rp18.000 per dolar AS.

BI Sebut Tekanan Global Pengaruhi Pergerakan Rupiah

Sebelumnya, Bank Indonesia menyampaikan bahwa pergerakan rupiah masih dipengaruhi sejumlah faktor eksternal dan domestik.

Dalam keterangan pada 28 Oktober 2026, BI menyoroti ketidakpastian penyelesaian konflik di Timur Tengah, kenaikan harga minyak, serta meningkatnya ekspektasi suku bunga Amerika Serikat.

Sentimen global tersebut mendorong penguatan dolar AS dan memengaruhi arus modal ke negara-negara berkembang.

Dari dalam negeri, kebutuhan valuta asing dan dinamika pasar keuangan juga menjadi faktor yang diperhatikan.

BI menyatakan terus melakukan langkah stabilisasi melalui berbagai instrumen, termasuk transaksi di pasar valuta asing dan pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.

Dampak Kurs Dolar terhadap Masyarakat

Pergerakan rupiah terhadap dolar AS dapat berdampak pada berbagai sektor ekonomi. Pelemahan rupiah berpotensi meningkatkan biaya impor, terutama untuk barang dan bahan baku yang dibeli menggunakan mata uang asing.

Dampaknya dapat dirasakan oleh pelaku usaha yang bergantung pada bahan baku impor, termasuk sektor industri dan perdagangan.

Meski demikian, perubahan nilai tukar tidak selalu langsung menyebabkan kenaikan harga barang di pasar. Besarnya dampak bergantung pada struktur biaya, persediaan, kontrak pembelian, serta kebijakan harga masing-masing perusahaan.

Masyarakat dan pelaku usaha perlu memantau perkembangan nilai tukar melalui data resmi Bank Indonesia untuk memperoleh informasi yang akurat.

Sumber: Bank Indonesia – JISDOR
https://www.bi.go.id/id/statistik/informasi-kurs/jisdor/Default.aspx

Bank Indonesia – Kurs Transaksi BI
https://www.bi.go.id/en/statistik/informasi-kurs/transaksi-bi/transaksi-bi/Default.aspx

ANTARA News – Dolar Hampir Rp18.200, BI Sebut Rupiah Masih Dipengaruhi Timur Tengah
https://www.antaranews.com/berita/5817087/dolar-hampir-rp18200-bi-sebut-rupiah-masih-dipengaruhi-timur-tengah

No More Posts Available.

No more pages to load.

Siap