Hari Wayang Nasional 2026, Andy Java Ajak Lestarikan Wayang Golek dan Jaga Lingkungan

oleh
Pertunjukan wayang golek dan wayang kulit dengan lakon Karna Tanding digelar di Plaza Balai Kota Bogor, Jumat (6/11/2026), dalam rangka menyambut Hari Wayang Nasional 2026. (Foto: Dokumentasi)
2.3K pembaca

Peringatan Hari Wayang Nasional pada 7 November 2026 menjadi momentum untuk memperkuat pelestarian wayang sebagai warisan budaya Indonesia. Pemerhati lingkungan dan budaya, Andy Java, mengajak masyarakat menjaga keberlangsungan wayang golek sekaligus meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan.

Menurut Andy, pelestarian wayang golek tidak hanya berkaitan dengan keberadaan pertunjukan dan para seniman, tetapi juga perlu memperhatikan kelestarian alam sebagai sumber bahan baku serta ruang penyelenggaraan kegiatan budaya.

“Wayang golek itu hidup dari alam. Kayu untuk membuat wayang berasal dari hutan, kelir dan panggung butuh ruang yang bersih dan nyaman. Kalau lingkungannya rusak, seninya juga ikut terancam. Maka menjaga budaya harus sejalan dengan menjaga lingkungan,” ujar Andy.

Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga kebersihan di setiap lokasi pertunjukan. Menurutnya, penyelenggaraan kegiatan budaya perlu disertai tanggung jawab terhadap lingkungan, termasuk pengelolaan sampah.

“Jangan sampai kita mengaku cinta budaya, tapi setelah nonton wayang, sampah berserakan di mana-mana. Cinta budaya harus dibuktikan dengan cinta kebersihan,” katanya.

Andy mengajak penonton, panitia, dan pedagang di sekitar lokasi pertunjukan untuk menjaga kebersihan bersama. Area plaza, alun-alun, maupun lingkungan kampung yang digunakan untuk pertunjukan diharapkan kembali bersih setelah kegiatan selesai.

Selain kebersihan, ia mendorong penggunaan bahan yang lebih ramah lingkungan dalam pembuatan wayang golek serta penanaman pohon untuk menjaga ketersediaan bahan baku bagi para perajin.

“Pengrajin wayang butuh kayu. Kalau kita tidak menanam, suatu saat bahan bakunya habis. Menanam pohon hari ini adalah cara kita menyelamatkan wayang golek di masa depan,” ujarnya.

Wayang Golek sebagai Sarana Pendidikan Karakter

Dari sisi kebudayaan, Andy menilai wayang golek memiliki nilai pendidikan yang dapat diwariskan kepada generasi muda. Cerita dan karakter dalam setiap lakon mengandung pesan tentang keberanian, kesetiaan, pengorbanan, serta tanggung jawab.

Ia mencontohkan lakon Karna Tanding yang dipentaskan dalam rangkaian peringatan Hari Wayang Nasional di Kota Bogor. Menurutnya, cerita tersebut dapat menjadi sarana mengenalkan nilai-nilai kehidupan sekaligus memperkuat identitas budaya masyarakat Sunda.

“Anak-anak sekarang banyak belajar dari gawai. Wayang golek mengajarkan nilai lewat cerita. Nilai itu yang membuat kita punya jati diri sebagai orang Sunda dan sebagai bangsa Indonesia,” tuturnya.

Andy juga mengapresiasi Pemerintah Kota Bogor dan Kementerian Kebudayaan atas penyelenggaraan pertunjukan Wayang Golek dan Wayang Kulit Dinasti Sunandar dengan lakon Karna Tanding di Plaza Balai Kota Bogor, Jumat (6/11/2026) malam.

Ia menilai pertunjukan di ruang publik dapat memperluas jangkauan seni tradisional, sehingga wayang tidak hanya dikenal di lingkungan sanggar dan kampung, tetapi juga dapat dinikmati masyarakat perkotaan, khususnya generasi muda.

Dorong Regenerasi Dalang dan Digitalisasi Wayang

Andy menegaskan pelestarian wayang golek perlu dilakukan secara berkelanjutan. Ia mengusulkan tiga langkah, yakni memperkuat regenerasi dalang dan sinden muda, memperbanyak ruang pertunjukan, serta memanfaatkan platform digital untuk memperkenalkan wayang kepada masyarakat luas.

Regenerasi dapat dilakukan melalui pelatihan di sanggar seni dan sekolah. Sementara itu, pertunjukan diharapkan tidak hanya digelar pada peringatan hari besar, tetapi juga menjadi bagian dari kegiatan masyarakat dan pendidikan.

Digitalisasi melalui media sosial dan portal berita juga dinilai dapat membantu memperkenalkan wayang golek kepada generasi yang lebih akrab dengan teknologi.

“Wayang golek tidak akan mati kalau ada yang memainkan, ada yang menonton, dan ada yang mewariskan. Tiga-tiganya harus jalan bareng. Dalang muda harus dibina, penonton muda harus diajak, dan pemerintah harus memberi ruang,” jelasnya.

Ia turut mengajak komunitas pecinta wayang golek, sanggar seni, pegiat budaya, pemerintah, sekolah, dan media untuk bekerja sama dalam menjaga keberlangsungan kesenian tradisional tersebut.

Andy berharap wayang golek mendapat ruang lebih luas dalam pendidikan, termasuk melalui pengenalan budaya lokal di sekolah.

“Harapan saya, wayang golek bisa masuk kurikulum muatan lokal, masuk ke sekolah, masuk ke kampung-kampung, agar anak-anak kita tumbuh dengan kebanggaan terhadap budayanya sendiri,” tambahnya.

Menutup pernyataannya, Andy berharap Hari Wayang Nasional tidak berhenti sebagai agenda seremonial, tetapi menjadi momentum untuk memperkuat gerakan pelestarian budaya dan kepedulian lingkungan.

“Jaga wayang golek, jaga lingkungan, jaga budaya kita. Kalau budayanya kuat, lingkungannya bersih, masyarakatnya akan bermartabat,” pungkasnya.

No More Posts Available.

No more pages to load.

Siap