Ikatan Keluarga Alumni Lemhannas (IKAL) bersinergi dengan PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk untuk memperkuat wawasan kebangsaan dan nilai bela negara di lingkungan korporasi penerbangan. Kolaborasi ini menekankan pentingnya integritas, profesionalisme, keselamatan penerbangan, dan pelayanan publik sebagai bentuk pengabdian kepada bangsa.
Hal tersebut disampaikan Mayjen TNI Dr. Totok Imam Santoso dalam kegiatan Pelatihan Wawasan Kebangsaan dan Bela Negara yang digelar di Pusat Pendidikan dan Pelatihan (Pusdiklat) Garuda Indonesia, Jakarta, pada 13 Oktober 2026. Kegiatan ini diikuti 25 manajer Garuda Indonesia dari berbagai wilayah di Indonesia.
Dalam pemaparannya bertajuk “Bela Negara dalam Perspektif Korporasi”, Totok menjelaskan bahwa bela negara tidak seharusnya berhenti sebagai slogan atau kegiatan seremonial. Nilai tersebut perlu menjadi bagian dari etika, budaya kerja, dan pengambilan keputusan perusahaan.
Menurutnya, Garuda Indonesia memiliki tanggung jawab yang tidak hanya berkaitan dengan kepentingan bisnis. Sebagai maskapai nasional, perusahaan juga berperan menjaga keselamatan penumpang, memperkuat konektivitas antardaerah, serta membawa identitas Indonesia di tingkat internasional.
Profesionalisme sebagai Wujud Bela Negara
Totok menegaskan bahwa profesionalisme, integritas, dan pelayanan berkualitas merupakan bagian dari tanggung jawab setiap insan perusahaan terhadap bangsa.
“Keselamatan yang dikompromikan, integritas yang diabaikan, pelayanan yang kehilangan martabat, serta tata kelola yang menyimpang bukan semata-mata persoalan internal perusahaan. Hal tersebut juga berkaitan dengan tanggung jawab moral sebuah korporasi nasional yang membawa nama Indonesia,” ujarnya.
Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni Universitas Pertahanan Republik Indonesia tersebut menjelaskan bahwa bela negara dapat diwujudkan melalui profesi masing-masing. Pengabdian kepada negara tidak terbatas pada kegiatan militer atau pertahanan, tetapi juga tercermin dalam pelaksanaan tugas secara bertanggung jawab.
Ia menilai profesionalisme merupakan wujud patriotisme, integritas mencerminkan kesetiaan terhadap nilai-nilai negara, sedangkan pelayanan terbaik menjadi bentuk pengabdian kepada masyarakat.
Dalam konteks penerbangan, penerapan nilai tersebut dapat dilakukan melalui kepatuhan terhadap regulasi, kedisiplinan, kepemimpinan yang berintegritas, perlindungan keselamatan penumpang, dan sikap mengutamakan kepentingan bersama.
Lima Nilai Dasar Bela Negara
Dalam pemaparannya, Totok menguraikan lima nilai dasar bela negara yang perlu diterapkan dalam budaya kerja Garuda Indonesia, yaitu:
- Cinta tanah air, diwujudkan melalui komitmen menjaga nama baik Indonesia.
- Kesadaran berbangsa dan bernegara, tercermin dalam pemahaman terhadap hak, kewajiban, serta tanggung jawab profesional.
- Kesetiaan kepada Pancasila, diwujudkan melalui penghormatan terhadap kemanusiaan, persatuan, musyawarah, dan keadilan sosial.
- Kerelaan berkorban, ditunjukkan melalui kesediaan mencurahkan waktu, tenaga, pikiran, dan keahlian untuk kepentingan bersama.
- Kemampuan awal bela negara, dibangun melalui disiplin, ketahanan mental, kesiapsiagaan, dan kompetensi dalam menghadapi risiko.
Menurut Totok, kelima nilai tersebut tidak cukup hanya dipahami melalui pelatihan. Nilai-nilai itu perlu diterapkan secara konsisten dalam kebiasaan kerja, pengambilan keputusan, dan standar operasional perusahaan.
Ia juga menekankan bahwa keselamatan penerbangan merupakan salah satu bentuk nyata penerapan bela negara di lingkungan maskapai nasional.
Keselamatan dan Integritas Harus Menjadi Prioritas
Totok mengingatkan bahwa loyalitas kepada perusahaan tidak boleh dijadikan alasan untuk membenarkan penyimpangan. Sebaliknya, loyalitas harus diwujudkan melalui keberanian menjaga organisasi agar tetap berjalan sesuai aturan dan prinsip yang benar.
Dalam industri penerbangan, keselamatan penumpang, kepatuhan terhadap prosedur, dan tata kelola yang baik menjadi bagian penting dalam mempertahankan kepercayaan publik.
Ia juga menyoroti peran Garuda Indonesia sebagai representasi Indonesia di ruang udara internasional. Setiap interaksi dengan penumpang menjadi kesempatan untuk menunjukkan karakter bangsa yang ramah, profesional, menghargai budaya, dan menghormati keberagaman.
Pelayanan yang manusiawi, komunikasi yang jelas, perhatian terhadap kebutuhan khusus penumpang, serta respons yang tepat ketika terjadi gangguan perjalanan merupakan contoh penerapan nilai kemanusiaan dalam pelayanan.
Konektivitas Udara dan Keamanan Digital
Sebagai negara kepulauan, Indonesia membutuhkan konektivitas udara untuk mendukung mobilitas masyarakat, kegiatan ekonomi, pariwisata, pendidikan, dan hubungan sosial antardaerah.
Totok menilai peran Garuda Indonesia tidak hanya sebatas menghubungkan bandar udara. Konektivitas penerbangan juga berkontribusi mempererat hubungan antarmasyarakat dan memperkenalkan potensi Nusantara kepada dunia.
Selain keselamatan penerbangan dan pelayanan, ia mengingatkan pentingnya keamanan informasi di tengah perkembangan teknologi digital. Perlindungan data penumpang, keamanan sistem, penjagaan kredensial, dan kewaspadaan terhadap ancaman siber perlu menjadi tanggung jawab seluruh karyawan.
Menurutnya, kesadaran terhadap keamanan digital merupakan bagian dari upaya menjaga kepercayaan masyarakat sekaligus melindungi kepentingan nasional.
Bela Negara Harus Menjadi Budaya Perusahaan
Totok menegaskan bahwa Garuda Indonesia perlu menerapkan nilai bela negara dalam setiap aspek operasional, mulai dari pengambilan keputusan hingga pelayanan kepada penumpang.
Menjaga keselamatan berarti melindungi kehidupan. Memelihara integritas berarti mempertahankan kepercayaan masyarakat. Menghubungkan wilayah Indonesia berarti mendukung persatuan nasional, sedangkan memberikan pelayanan berkualitas menjadi salah satu cara memperkenalkan budaya Indonesia kepada dunia.
Ia berharap pelatihan wawasan kebangsaan dan bela negara tidak berhenti sebagai agenda sesaat, tetapi berkembang menjadi kesadaran bersama yang melekat dalam tata kelola, kepemimpinan, dan profesionalisme perusahaan.
Melalui sinergi IKAL dan Garuda Indonesia, nilai kebangsaan diharapkan dapat diterjemahkan menjadi tindakan nyata dalam lingkungan kerja. Dengan demikian, profesionalisme korporasi tidak hanya berorientasi pada kinerja bisnis, tetapi juga pada keselamatan, pelayanan, integritas, dan kontribusi terhadap kepentingan bangsa.






