GMNI Jakarta Selatan Bedah Buku Max Lane tentang Sejarah Revolusi Indonesia

oleh
DPC GMNI Jakarta Selatan menggelar diskusi buku Unfinished Nation karya Max Lane yang membahas ingatan revolusi, aksi massa, sejarah Indonesia, dan relevansi gerakan mahasiswa setelah Reformasi 1998.
3.4K pembaca

Dewan Pimpinan Cabang Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (DPC GMNI) Jakarta Selatan menggelar diskusi buku Unfinished Nation: Ingatan Revolusi, Aksi Massa dan Sejarah Indonesia karya sejarawan Australia, Max Lane. Kegiatan yang berlangsung di Sekretariat GMNI Jakarta Selatan tersebut membahas sejarah revolusi Indonesia, peran aksi massa, gerakan mahasiswa, serta tantangan demokrasi setelah Reformasi 1998.

Diskusi yang dimulai pukul 15.00 WIB itu menghadirkan Max Lane sebagai narasumber utama. Sejumlah tokoh turut memberikan tanggapan, yakni akademisi Dr. Endah Sricahyani dan S.L. Wisnubroto Kristantyo, jurnalis sekaligus Presidium GMNI periode 1999–2002. Diskusi dipandu oleh Terang Bintang Merah, kader DPC GMNI Jakarta Selatan.

Dalam pemaparannya, Max Lane mengangkat gagasan bahwa Indonesia merupakan unfinished nation atau bangsa yang belum selesai. Gagasan tersebut menyoroti pentingnya memahami sejarah Indonesia tidak hanya melalui kebijakan dan keputusan elite, tetapi juga melalui peran rakyat, gerakan sosial, dan aksi massa dalam berbagai perubahan politik.

Diskusi ini juga menjadi ruang untuk membahas bagaimana ingatan sejarah dibentuk, diwariskan, dan ditafsirkan kembali dalam konteks kehidupan demokrasi saat ini.

Aktivis 1998 Kaitkan Buku Max Lane dengan Reformasi

Mantan aktivis 1998, Jhosua Napitupulu, menilai gagasan dalam buku Unfinished Nation relevan untuk merefleksikan perjalanan gerakan mahasiswa sejak Reformasi 1998 hingga saat ini.

Menurut Jhosua, perubahan politik pada 1998 tidak seharusnya dipahami hanya sebagai pergantian rezim. Peristiwa tersebut juga menjadi bagian dari perjalanan panjang perjuangan demokrasi yang melibatkan mahasiswa dan masyarakat.

“Unfinished Nation itu adalah cerita kita di 98. Kita menjatuhkan rezim, tapi revolusi kita belum selesai. Aksi massa 98 adalah lanjutan dari ingatan revolusi 45 yang dibahas Max Lane. Hari ini, tantangan kita sama: bagaimana menjaga ingatan kolektif itu agar tidak dibajak oleh narasi kekuasaan,” ujar Jhosua.

Ia juga menyoroti pentingnya menjaga ingatan kolektif mengenai perjuangan demokrasi agar sejarah tidak hanya dipahami melalui satu sudut pandang. Menurutnya, generasi muda perlu terus mengkaji sejarah secara kritis, termasuk dengan melihat hubungan antara gerakan rakyat, kekuasaan, dan kepentingan ekonomi.

Jhosua menilai diskusi buku yang diselenggarakan GMNI Jakarta Selatan dapat menjadi sarana bagi mahasiswa untuk mempelajari kembali sejarah gerakan nasional dan merefleksikan relevansinya terhadap persoalan masa kini.

“Max Lane mengingatkan bahwa bangsa ini akan terus menjadi bangsa yang belum selesai jika kaum muda, khususnya GMNI sebagai penerus pemikir-pemikir pejuang Bung Karno, berhenti melakukan kritik sejarah. GMNI Jaksel sudah di jalur yang benar dengan mendiskusikan buku ini. Ini bukan nostalgia, tapi upaya merawat nalar kritis untuk melawan amnesia sejarah,” katanya.

Dorong Gerakan Mahasiswa Tetap Kritis

Jhosua berharap diskusi mengenai sejarah dan pemikiran politik tidak berhenti pada forum akademik. Ia mendorong agar kajian tersebut menjadi bahan refleksi bagi gerakan mahasiswa dalam memahami persoalan sosial dan demokrasi.

Menurutnya, mahasiswa perlu terus membangun tradisi membaca, berdiskusi, dan mengkaji sejarah untuk memahami perubahan masyarakat. Upaya tersebut juga dinilai penting untuk menjaga hubungan gerakan mahasiswa dengan persoalan yang dihadapi rakyat.

Sementara itu, diskusi buku Unfinished Nation berlangsung dengan melibatkan kader GMNI Jakarta Selatan yang mendalami pemikiran Max Lane dan menghubungkannya dengan pengalaman Reformasi 1998 serta perkembangan demokrasi Indonesia.

Melalui kegiatan tersebut, GMNI Jakarta Selatan membuka ruang pertukaran gagasan mengenai sejarah revolusi, aksi massa, dan peran mahasiswa dalam kehidupan berbangsa. Diskusi ini sekaligus mengangkat pentingnya literasi sejarah sebagai bagian dari upaya memahami perjalanan politik Indonesia dari masa ke masa.

No More Posts Available.

No more pages to load.

Siap