Home / Berita / Kepala Desa Kalimantan Jadi Saksi Sidang GAFATAR

Kepala Desa Kalimantan Jadi Saksi Sidang GAFATAR

Jakarta, sketsindonews – Kepala desa dan Pemangku adat yang berasal dari Kalimantan memberikan kesaksian dipersidangan kasus penyimpangan Gafatar di Pengadilan Jakarta Timur.

Yusak yang bersal dari Kalimantan Timur, saat menjabat sebagai kepala desa menjelaskan dihadapan majelis hakim dan penuntut umum bahwa organisasi Gerakan Fajar Nusantara atau Gafatar lebih condong melakukan aktifitas dibidang pertanian.

“Yang kita tahu Gafatar dibidang pertanian dan kegiatan sosial,” ucap saksi dipersidangan, (22/1).

Lanjutnya, dia dipilih menjadi kepala desa atas keinginan warga sekitar. Dan selama 6 tahun masa periode kepemimpinannya, bahkan dia mengetahui organisasi Gafatar yang berpindah tidak jauh dari lahan gambut berdomisili di Kalimantan Timur. Menurutnya, kelompok Gafatar yang eksodus diwilayahnya berasal dari pulau Jawa.

“Saya kepanjangan dari Bupati, saya dipiih oleh masyarakat. Waktu itu ada surat (keterangan pindah). Ada dari Yogyakarta dan Surabaya,” imbuh saksi Yusak kepada JPU.

Namun, kepala desa saat diruang sidang memaparkan anggota kelompok Gafatar saat itu tercatat dikantor dinas kependudukan secara otomatis menjadi bagian dari warga setempat dan saat kasus penyimpangan mencuat dipublik pihak kependudukan mencabut izin yang telah tercatat sebagai penduduk tersebut.

“Waktu itu ada dinas kependudukan, dicabut dari dinas kependudukan karena setiap rapat dikabupaten saya tidak diundang,” tegas saksi.

Sementara, Simpai (44), Pemangku adat sekaligus pegawai negeri sipil dari Kalimantan Tengah yang menjabat sebagai kepala sekolah setempat tak luput dimintai keterangan menjadi saksi.

Ia pun menjekaskan organisasi Gafatar yang diketahuinya semenjak Tahun 2013 hanya memiliki kegiatan program bercocok tanam dan sempat diminta oleh dinas terkait sebagai penyuluhan pertanian.

“Saya kenal Pak Musadek dan Pak Mahfus pesannya kearifan lokal harus dijunjung tinggi. Mereka datang ada surat pindah, program ada,” ujar saksi.

Bahkan, Simpai memberikan kesaksian ada beberapa pemeluk agama yang di yakini oleh masyarakat lokal di Kalimantan dan jumlah penduduk tercatat mencapai 1400 kepala keluarga. Tak hanya itu, dia juga terancam akan dicopot dari jabatannya apabila tidak mengusir organisasi yang diduga telah menyimpang.

“Islam ada, Kristen ada, Budha ada. Penduduk 1400Kk dan saya diminta untuk mengusir tetapi saya tidak mau. Saya diancam akan dicopot oleh dinas, saya masih kepala sekolah,” terangnya. (Dw)

Check Also

Ini Alasan Habib Smith Ditolak Di Manado

Sulut, sketsindonews – Dengan kawalan ketat dari aparat kepolisian dan TNI, sejumlah ormas adat Minahasa menolak kedatangan Habib …

Watch Dragon ball super