1447 H
رمضان كريم
Marhaban Ya Ramadan
Semoga bulan suci ini membawa keberkahan, kedamaian, dan ampunan bagi kita semua.
✦ Mari sucikan hati, perbanyak ibadah, dan pererat silaturahmi ✦
Hengki Lumban Toruan
HENGKI LUMBAN TORUAN CEO & Founder Sketsa Indonesia

Yeremia Melawan Nubuat Sukacita Hananya

oleh
Foto ilustrasi. (Sumber: Pendoa Sion Blog's)
33.2K pembaca

Yeremia 28:5-9

sketsindonews – Perdamaian dan kemakmuran tentu saja juga menjadi pengharapan bagi Yeremia sebagai bagian dari umat waktu itu.

Oleh karenanya, Yeremia pun menjawab Hananya dengan jawaban “amin”. Ini adalah tanda bahwa ia pun merindukan situasi damai dan merdeka, walaupun sesudahnya ia menyambung dengan kata-kata yang mengandung sarkasme (ay. 6).

Gambar

Yeremia menyadari bahwa posisinya sebagai nabi yang dipercayai umat terancam, namun ia tak menyerang Hananya dengan menyebutnya pendusta atau pembohong.

Ia hanya mengingatkan dua poin penting yang tak boleh dilupakan kepada semua yang hadir.

Peringatan ini pun tidak dilandasi oleh tujuan untuk menyelamatkan posisinya sebagai nabi, tapi lebih karena ini dirasa tidak sesuai dengan kehendak Tuhan.

Pertama, kata-kata Hananya tak sesuai dan bertentangan dengan tradisi propetik yang mereka hidupi (ay. 8-9). Kedua, waktulah yang akan menunjukan kebenaran dari pewartaan itu [10].

Dalam tradisi kuno Israel, seorang nabi selalu menubuatkan malapetaka dan penyakit sampar, dan jarang untuk menubuatkan perdamaian dan keseimbangan, dan bila hal itu yang dibuat, maka orang yang mendengar harus berhati-hati sampai nubuat itu terpenuhi.

Yeremia menegaskan bahwa tanda bukti bagi nubuat yang asli adalah kepenuhan, dan hal ini sesuai dengan aturan yang diajukan dalam Ul 18, 21-22. Dengan mengingat nabi-nabi sebelumnya seperti Amos, Mikha, dan mungkin juga Hananya, Yeremia menunjukan bahwa sejatinya tugas para nabi adalah menjadi penjaga Israel (ay. 8).

Sampai pada tahap ini sebenarnya Yeremia mengetahui dengan persis akan bahayanya perdebatan yang mereka langsungkan.

Umat yang menyaksikan dapat menjadi berpindah haluan kepada siapa mereka harus bertumpu.

Walaupun Yeremia berpendirian dengan teguh, jujur dalam menyampaikan firman Tuhan dan berada dalam pihak yang benar, nampaknya ia kalah dalam dukungan.

Pewartaan Hananya tentu saja dengan mudah merasuki umat Yehuda. Sebagai manusia ia tentu malu dan mengeluh kepada Tuhan, namun ini tak membuat hatinya gentar dan melarikan diri dari Tuhan.

Karena kesetiaannya dan kepasrahannya inilah, ia diubah oleh Tuhan menjadi nabi yang luar biasa kuatnya. Allah menghormati penyerahan lahir batinnya.

(Eky/ sumber: Renungan HKBP Ujung Menteng)

No More Posts Available.

No more pages to load.

Siap