Jakarta, sketsindonews – Setiap orang punya perjalanan hidup. Impian dan cita-cita tentu tidak sama. Namun ada perjalanan menarik dan berkesan setiap kisahnya. Seperti yang dirasakan Bupati Pamekasan Baddrut Tamam yang tidak punya cita-cita jadi kepala daerah.
Kini Baddrut sebagai orang nomor satu di lingkungan Pemkab Pamekasan terus menanamkan nilai-nilai pengabdian kepada masyarakat dengan memberikan berbagai macam program. Tiada hal paling berkesan bagi Baddrut kecuali berhasil dan membawa rakyatnya tersebut.
“Misal orang yang sebelumnya rumahnya tidak layak jadi layak, tidak mampu untuk sekolah jadi mampu sekolah. Itulah kepuasan bagi seorang pemimpin, dan jauh sebelum itu cita-cita menjadi bupati ini sebenarnya tidak ada pada diri saya,” kata Baddrut, Selasa (10/11/20).
Ia mengaku cita citanya sederhana, membantu orang. Sebagai keluarga pesantren di sebuah desa di Kecamatan Tlanakan, Pamekasan, dalam keluarganya selalu ditamankan tekad membantu, memberi solusi, dan tidak pernah berharap bayaran dari orang.
“Ini pelajaran dari orang tua, rezeki itu dari gusti Allah, itu yang disampaikan selalu, dan ini akhirnya menjadi kepribadian,” akunya.
Sebagai keluarga pesantren, Badrut sempat belajar di sejumlah pesantren dan akhirya memutuskan juga menempuh studi formal Fakultas Psikologi di UMM Malang.
Ia juga aktif di beberapa organisasi kajian dan kelompok diskusi. Dari situlah lahir pemikiran yang tidak terbayangkan sebelumnya bahwa yang bisa mengubah kehidupan itu dengan kepemimpinan.
“Nah cara berfikir itulah yang kemudian menjadi tempat saya untuk belajar politik lebih dalam dan kemudian di 2009 terpilih menjadi anggota DPR Jawa Timur termuda waktu itu dari PKB. Di tahun 2018 kemarin berkat kehendak dari rakyat terpilih jadi Bupati,” ungkapnya.
Saat kuliah Badrut senang membaca dan akhirnya bakat memnulis. Dengan menulis dia mendapat honor untuk menunjang biaya hidupnya. Dia mengaku ditinggal sang ayah sejak usia SD karena itu harus mandiri termasuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
“Saya pernah jualan kerupuk. Jadi di Madura itu ada krupuk enak, saya bawa ke Malang, saya titipkan ke beberapa pasar. Karena mungkin rezeki anak saleh, akhirnya laku banget, sampe ada yg digoreng baru kemudian dikirim ke warung-warung. Waktu itu lumayan pendapatan dari jualan, termasuk bisa lanjutin S2,” ungkapnya.
Selain semangat memberikan bantuan bagi kehidupan, ada kalimat luar biasa yang diterima dari temannya sesama aktifis bahwa bahwa menjadi pemimpin itu dan membangun daerah atau negara akan dikenang dalam sejarah, dan amalnya itu sampai ke generasi selanjutnya.
(Adv)






