TKA 2026: Kebutuhan Siswa dan Orang Tua, Pahami Tujuan hingga Manfaat Hasil Tes

oleh
Sejumlah siswa mengikuti Tes Kemampuan Akademik (TKA) berbasis komputer di laboratorium sekolah. (Ilustrasi AI/Dok. SketsindoNews.com)
1.3K pembaca

Pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik (TKA) 2026 memasuki tahap akhir untuk jenjang SMA, SMK, MA, dan sederajat. Di tengah rangkaian asesmen yang berlangsung hingga 8 November 2026, siswa dan orang tua perlu memahami bahwa TKA bukan ujian penentu kelulusan, melainkan instrumen untuk memperoleh gambaran capaian akademik secara lebih terstandar.

Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menyatakan pelaksanaan TKA Gelombang II telah berakhir pada 6 November 2026. Sebanyak 1.596.755 murid mengikuti gelombang tersebut.

Namun, rangkaian pelaksanaan belum sepenuhnya selesai. Berdasarkan jadwal yang disampaikan Kemendikdasmen, gelombang khusus mata pelajaran pilihan berlangsung pada 7–8 November 2026. Peserta yang berhalangan karena kendala teknis, sakit, atau kondisi tertentu dapat mengikuti mekanisme susulan sesuai ketentuan.

Informasi pelaksanaan tersebut disampaikan melalui siaran pers resmi Kemendikdasmen tentang berakhirnya TKA Gelombang II dan penjelasan kesiapan pelaksanaan TKA 2026.

TKA bukan penentu kelulusan

Salah satu hal penting yang perlu diketahui keluarga adalah status TKA sebagai asesmen yang tidak wajib diikuti seluruh murid. Kemendikdasmen menjelaskan bahwa murid yang tidak mengikuti TKA tetap dapat lulus dari satuan pendidikan sepanjang memenuhi ketentuan kelulusan yang berlaku.

Meski demikian, keputusan mengikuti atau tidak mengikuti TKA perlu dipertimbangkan dengan melihat rencana pendidikan berikutnya. Hasil tes dapat dimanfaatkan sebagai informasi capaian akademik dan menjadi salah satu bahan pertimbangan dalam seleksi pendidikan lanjutan sesuai persyaratan masing-masing jalur.

Dengan demikian, orang tua tidak perlu menganggap TKA sebagai satu-satunya penentu masa depan pendidikan anak. Hasil asesmen perlu dibaca bersama nilai rapor, proses pembelajaran, minat, dan kemampuan siswa.

Penjelasan mengenai sifat sukarela dan manfaat TKA tersedia dalam laman resmi Pusat Asesmen Pendidikan Kemendikdasmen.

Apa yang diukur dalam TKA?

Untuk jenjang SMA/MA/SMK dan sederajat, mata pelajaran TKA meliputi Bahasa Indonesia, Matematika, Bahasa Inggris, serta dua mata pelajaran pilihan.

Sementara itu, untuk jenjang SD/MI dan SMP/MTs sederajat, mata pelajaran yang diujikan adalah Bahasa Indonesia dan Matematika.

TKA dirancang untuk mengukur capaian akademik berdasarkan kompetensi mata pelajaran. Bentuk soal mencakup pilihan ganda biasa dan pilihan ganda kompleks, dengan penekanan pada penalaran serta pemecahan masalah.

Karena itu, persiapan siswa tidak cukup hanya menghafal materi. Pemahaman konsep, kemampuan membaca soal, mengolah informasi, dan menerapkan pengetahuan dalam berbagai situasi juga menjadi bagian penting.

Orang tua perlu mendampingi, bukan menambah tekanan

Dukungan keluarga menjadi salah satu kebutuhan penting selama pelaksanaan asesmen. Orang tua dapat membantu dengan memastikan anak memperoleh waktu istirahat cukup, menjaga kondisi kesehatan, menyiapkan kebutuhan teknis, serta memberikan suasana belajar yang nyaman.

Kemendikdasmen melalui Kepala Badan Kebijakan Pendidikan Dasar dan Menengah, Toni Toharudin, mengingatkan pentingnya semangat mengikuti asesmen dengan jujur dan tenang.

“Jujur berarti mengerjakan dengan kemampuan sendiri. Kemudian ketika bicara gembira, berarti datang dengan tenang, percaya diri, dan tentunya tidak terbebani secara berlebihan,” ujar Toni dalam penjelasan persiapan TKA pada 23 Oktober 2026.

Pesan tersebut relevan bagi orang tua agar tidak membandingkan hasil anak dengan teman sekelas atau memberikan tekanan berlebihan demi mengejar skor tinggi.

Pendampingan yang baik justru membantu siswa memahami bahwa asesmen merupakan bagian dari proses belajar, bukan ukuran tunggal kecerdasan maupun keberhasilan seseorang.

Memahami skor TKA 200–800

Kemendikdasmen juga menjelaskan bahwa hasil TKA jenjang SMA/MA/SMK menggunakan skala skor 200–800. Skala tersebut bukan persentase jawaban benar.

Artinya, skor 600 tidak berarti peserta menjawab benar 60 persen soal. Pengukuran menggunakan pendekatan teori respons butir atau Item Response Theory (IRT), yang mempertimbangkan karakteristik soal, termasuk tingkat kesukaran dan daya pembeda.

Orang tua perlu memahami cara membaca hasil tersebut agar tidak salah menafsirkan capaian anak. Selisih skor yang kecil juga perlu dimaknai secara hati-hati dengan mempertimbangkan galat pengukuran.

Penjelasan lengkap mengenai sistem penilaian dapat dibaca melalui siaran pers Kemendikdasmen tentang skala skor TKA 200–800.

Hasil tes menjadi bahan evaluasi belajar

Hasil TKA dapat membantu siswa mengenali mata pelajaran yang sudah dikuasai maupun bagian yang masih membutuhkan pendampingan. Bagi guru, informasi tersebut dapat menjadi bahan evaluasi untuk menyusun pembelajaran yang lebih sesuai dengan kebutuhan murid.

Bagi orang tua, hasil asesmen dapat digunakan untuk berdiskusi dengan anak mengenai pilihan pendidikan berikutnya, kebutuhan belajar tambahan, serta bidang akademik yang ingin dikembangkan.

Pada akhirnya, keberhasilan pendidikan tidak hanya ditentukan oleh angka dalam laporan hasil tes. Kemampuan berpikir kritis, karakter, kreativitas, keterampilan, dan dukungan lingkungan keluarga juga berperan dalam perkembangan anak.

TKA 2026 seharusnya menjadi sarana untuk mengenali kemampuan siswa secara lebih objektif. Dengan pemahaman yang tepat, siswa dapat mengikuti asesmen tanpa tekanan berlebihan, sementara orang tua dapat menjalankan peran pendampingan secara lebih proporsional.

Sumber: Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), Pusat Asesmen Pendidikan, dan Badan Kebijakan Pendidikan Dasar dan Menengah.

No More Posts Available.

No more pages to load.

Siap