Jokowi Pakai Jaket PSI, Ancaman Nyata bagi Basis Pemilih PDIP?

oleh
Ilustrasi Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) dan logo Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Kedekatan Jokowi dengan PSI dinilai sejumlah pengamat berpotensi memengaruhi peta politik nasional serta basis pemilih menjelang Pemilu 2029.
10.6K pembaca

Direktur Eksekutif Aljabar Strategic Indonesia, Arifki Chaniago menilai wacana Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) bakal mengenakan jaket Partai Solidaritas Indonesia (PSI) merupakan kode politik yang sangat kuat dan berpotensi memengaruhi peta persaingan elektoral menjelang Pemilu 2029.

“Dalam politik, jaket bukan sekadar pakaian. Jaket adalah pernyataan sikap. Ketika Jokowi memakai jaket PSI, publik melihat itu sebagai pesan bahwa kapal politik Jokowi sedang merapat ke dermaga baru dan berpotensi menjadi ancaman serius bagi PDIP,” ujar Arifki.

Menurutnya, langkah Jokowi tersebut berpotensi memberikan keuntungan elektoral yang besar bagi PSI sekaligus menghadirkan tantangan serius bagi PDIP. Selama satu dekade terakhir, terdapat irisan yang sangat kuat antara pemilih PDIP dan loyalis personal Jokowi yang memilih partai karena faktor figur mantan presiden tersebut.

“Masalah terbesar PDIP hari ini bukan kehilangan Jokowi sebagai kader, melainkan potensi kehilangan pemilih yang selama ini memilih PDIP karena Jokowi. Ketika figur dan partai berjalan ke arah yang berbeda, sebagian pemilih biasanya akan mengikuti figur,” katanya.

Arifki menilai kelompok yang paling berpotensi mengalami pergeseran dukungan adalah pemilih yang ingin melihat situasi yang lebih segar dalam struktur partai. Ini cenderungnya pemilih muda atau generasi baru PDIP, yang lebih cair dalam menentukan pilihan politik. Pada kelompok ini, pengaruh personal Jokowi dinilai masih jauh lebih kuat dibandingkan identitas kepartaian.

“Jika Jokowi adalah magnet, maka PSI saat ini sedang berusaha menempatkan diri sebagai logam yang paling dekat dengan medan tarik tersebut. Di situlah potensi keuntungan elektoral PSI berada,” ujarnya.

Ia menambahkan, momentum tersebut sekaligus menjadi ujian besar bagi PDIP untuk membuktikan bahwa kekuatan partai tidak hanya bertumpu pada figur yang pernah dibesarkannya. Sebab, semakin kuat asosiasi Jokowi dengan PSI, semakin besar pula risiko terjadinya migrasi suara di segmen pemilih nasionalis yang selama ini menjadi basis utama PDIP.

“Satu jaket untuk Jokowi memang tidak menentukan hasil pemilu 2029. Karena PSI juga masih punya tantangan membangun struktur partai agar mapan seperti PDIP. Tetapi jika memang Jokowi bergabung dengan PSI, maka dinama kedua partai itu bakal makin panas menjelang Pemilu 2029,” pungkasnya.

Arifki Chaniago
Direktur Eksekutif Aljabar Strategic Indonesia

No More Posts Available.

No more pages to load.

Siap